Warga Korsel Ditemukan Tewas di Lokasi Gempa Palu-Donggala

Warga Korsel Ditemukan Tewas di Lokasi Gempa Palu-Donggala

Seorang warga Korea Selatan yang hilang di Palu, Sulawesi Tengah, akibat gempa ditemukan tewas di bawah reruntuhan Hotel Roa-Roa pada Kamis (4/10).

“Kami sangat menyayangkan bahwa jenazah seorang warga Korsel ditemukan di bawah reruntuhan Hotel Roa-Roa di Palu. Jenazah ditemukan kemarin sore oleh tim pencarian”, kata Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Kim Chang-beom, Jumat (5/10).

Warga Korsel itu memiliki nama keluarga Lee. Lee tidak bisa dikontak sejak dilaporkan hilang saat gempa dan tsunami menerjang Palu dan Donggala pada 28 September lalu.

Sorang kerabat warga Korsel tersebut mengatakan kepada Yonhap bahwa pria dengan nama keluarga Lee itu datang ke Palu pada Senin lalu bersama enam warga Indonesia untuk menghadiri acara paragliding.

Di Palu juga tengah digelar Festival Pesona Palu Nomoni. Puluhan hingga seratusan orang pengisi acara belum diketahui nasibnya.

“Kami bicara dengan Lee lewat telepon pukul 16.50 pada Jumat, tapi sejak saat itu dia tidak bisa dihubungi. Orang Indonesia yang pergi bersama dia juga tak bisa dikontak”, ujar sumber anonim tersebut, Sabtu (29/9).

Kim mengatakan ibu Lee segera terbang ke Palu untuk mendampingi pencarian tak lama setelah Lee dikabarkan hilang.

“Sang ibu sangat berharap anaknya bisa ditemukan dalam keadaan selamat. Namun, sayangnya, harapan itu sirna dengan hasil pencarian”, kata Kim.

“Meski begitu, kami sangat mengapresiasi pemerintah Indonesia yang telah mengerahkan operasi pencarian. Kami semua mendoakan agar pemulihan pascabencana bisa segara terlaksana”.

Kim mengatakan jasad Lee telah dikremasi di Palu. Sementara abu jenazah akan dikirimkan ke Bali malam ini oleh sang ibu.

“Selama ini mendiang (Lee) tinggal di Bali dan pergi ke Palu untuk berpartisipasi dalam salah satu turnamen paragliding”, ucap Kim.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana (BNPB) sedikitnya 120 warga negara asing berada di Palu dan Donggala saat bencana yang telah merenggut lebih dari 1.400 nyawa itu terjadi.

Sebagian besar telah dievakuasi ke luar daerah Palu dan beberapa lainnya telah kembali ke negara asal.

Sementara itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan dua WNA memutuskan bertahan di Palu karena keperluan masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar