24 Tewas dalam Teror Pawai Militer, Iran Salahkan AS

Setidaknya 24 orang tewas dan 53 terluka dalam serangan bersenjata di tengah gelaran pawai militer di Kota Ahvaz, Khuzestan, Iran, Sabtu (22/9).

“Jumlah korban tewas mencapai 24 orang. Beberapa di antaranya adalah wanita dan anak-anak”, ujar Kantor Berita IRNA, melansir AFP.

Empat gerilyawan melancarkan aksinya pada pukul 9 pagi waktu setempat. Serangan itu dilancarkan tepat saat warga Iran memperingati dimulainya perang Iran-Irak pada 1980 silam.

“Dua orang di antaranya tewas dan dua orang ditangkap”, ujar Wakil Gubernur Khuzestan, Ali Hossein Hosseinzadeh.

Beberapa media melaporkan bahwa para gerilyawan menyamar dengan berpakaian ala militer Iran.

Serangan itu menargetkan Khuzestan, sebuah provinsi yang berbatasan dengan Irak. Khuzestan dikenal sebagai salah satu wilayah dengan komunitas etnis Arab Sunni terbesar.

Selain itu, Khuzestan juga dikenal sebagai medan pertempuran utama konflik antara Iran dan Irak.

Pemerintah Iran menyalahkan Amerika Serikat atas serangan langka yang terjadi di Khuzestan tersebut.

“Teroris yang direkrut, dilatih, dipersenjatai, dan dibayar oleh rezim asing telah menyerang Ahvaz. Mereka (AS) bertanggung jawab atas serangan itu”, ujar Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif, dalam akun Twitter-nya.

Zarif berjanji Iran akan memberikan respons tegas terkait serangan tersebut. Dia bersumpah untuk meningkatkan kemampuan rudal balistiknya.

“Kami tidak akan pernah menurunkan kemampuan pertahanan kami” tegas Rouhani.

Iran memiliki rudal balistik dengan jangkauan hingga 3.500 kilometer. Jarak ini dinilai cukup untuk mencapai basis Israel dan AS di wilayah Timur Tengah.

Sebelumnya, AS telah membuat kesepakatan terkait negosiasi untuk mengatasi permasalahan nuklir pada 2015 lalu. Saat itu, AS berserta lima negara lainnya mengendurkan sanksi atas Iran. Sebagai imbalannya, Iran diminta menekan program nuklir mereka.

Namun kemudian, Presiden AS, Donald Trump mencabut kesepakatan tersebut. AS kembali menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Iran untuk mencegah negara itu membuat bom nuklir.

Washington sendiri mengaku terbuka untuk pembicaraan terkait perjanjian anyar tersebut. Namun, Teheran berulang kali menegaskan bahwa mereka tak bisa bernegosiasi di bawah tekanan sanksi.

Trump dan Rouhani dijadwalkan akan berada di New York, AS, pekan depan untuk menghadiri pertemuan Majelis Umum PBB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar