Menlu Inggris Serukan Keadilan bagi Rohingya

Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt menyerukan keadilan atas krisis kemanusiaan yang telah mengorbankan warga etnis Rohingya di Myanmar. Hal ini disampaikan setelah ia mengunjungi negara bagian Rakhine, pusat dari memburuknya kekerasan terhadap etnis minoritas di Myanmar itu sejak Agustus lalu.

Hunt mengatakan pemerintah Myanmar harus menyadari bahwa “komunitas internasional tidak akan membiarkan” kejahatan dan kekerasan terhadap Rohingya terus terjadi.

“Jika kami tidak melihat proses (hukum) itu terjadi, kami akan menggunakan segala cara yang kami punya untuk memastikan keadilan. Dunia terus menyaksikan ini”, kata Hunt di Naypyidaw, Jumat (20/9).

Pernyataan itu diutarakan Hunt setelah bertemu dengan pemimpin de facto Myanmar, Penasihat Negara Aung San Suu Kyi. Hunt menyebut pertemuan keduanya sangat “jujur” dan “hidup”.

Lawatan Hunt ke Rakhine berlangsung tak lama setelah tim pencari fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis laporan yang menyimpulkan bahwa militer Myanmar terbukti berniat melakukan genosida terhadap Rohingya.

Laporan itu menjelaskan secara detail dugaan pembunuhan massal di luar hukum, kekerasan seksual, pengusiran, dan pembakaran desa-desa di Rakhine. Laporan panel di bawah Dewan HAM PBB itu juga menuntut panglima militer Myanmar dan lima jenderalnya untuk mundur dan segera diadili.

Tim tersebut menuduh militer Myanmar terlibat genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang.

Hunt meninjau Rakhine, termasuk pusat repatriasi pengungsi Rohingya di Taung Pyo Letwe, menggunakan helikopter selama tiga jam dengan pengawasan ketat pejabat.

Hunt sempat berbicara dengan sejumlah warga lokal di tiga tempat yang ia kunjungi di Rakhine. Meski begitu, dia merasa sekelompok orang tersebut telah lebih dulu ditunjuk pejabat lokal untuk berbicara dengannya.

Hunt juga mengatakan dia juga sempat mencoba bertanya pada penduduk lokal Desa Pan Taw Pyin, desa terakhir yang ia kunjungi di Rakhine, tentang pengalaman mereka selama krisis kemanusiaan memburuk.

Dalam pertemuannya dengan Suu Kyi, Hunt juga mengatakan dia mengungkapkan “keprihatinannya” terhadap pemenjaraan dua wartawan Reuters Wa Lone dan Kyaw Soe Oo pada bulan ini. Keduanya divonis tujuh tahun penjara karena dianggap melanggar Undang-Undang Rahasia Negara karena berusaha meliput Rohingya.

Hunt menyebut Suu Kyi berniat meninjau kembali keputusan pengadilan terhadap dua wartawan tersebut.

“Dia bilang dia akan memeriksanya”, kata Hunt mengutip pernyataan Suu Kyi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar