Saudi Bersiap Buat Pengakuan Terkait Kematian Kashoggi

Saudi Bersiap Buat Pengakuan Terkait Kematian Kashoggi

Arab Saudi tengah menyiapkan laporan yang mengakui bahwa kematian jurnalis, Jamal Kashoggi, terjadi akibat kesalahan interogasi. Menurut laporan itu, integorasi ini dilakukan untuk membawanya keluar paksa dari Turki. Hal ini disebutkan oleh dua sumber CNN yang tak disebutkan identitasnya.

Salah satu sumber menyebut bahwa operasi ini dilakukan tanpa kejelasan dan transparansi. Ia juga menyebut bahwa siapapun yang terlibat dalam peristiwa tersebut harus bertanggung jawab.

Sumber lain yang mengetahui mengenai laporan ini juga menyebut bahwa laporan ini masih dalam tahap persiapan dan memperingatkan bahwa keadaan masih bisa berubah.

Lihat juga: Trump Ancam Hukum Berat Pelaku Kasus Jamal Khashoggi

Kolumnis Washington Post itu terakhir kali terlihat di publik ketika ia memasuki konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki pada 2 Oktober lalu. Sebelumnya, otoritas Saudi selalu mengungkap bahwa Kashoggi telah meninggalkan konsulat mereka di sore yang sama, namun mereka tak memberikan bukti atas klaim tersebut.

Apalagi tunangan Kashoggi, Hatice Cengiz, yang menunggu di luar konsulat menyebut bahwa ia tak pernah muncul lagi.

Hilangnya Kashoggi telah menimbulkan keretakan diplomatis antara Saudi dengan barat. Selain itu, berbagai perusahaan internasional juga menarik diri dari KTT investasi bergengsi, konferensi Inisiatif Investasi Masa Depan, yang akan berlangsung akhir bulan ini di Riyadh.

Lihat juga: Trump: Penyelidik AS Kerja dengan Turki-Saudi soal Kashoggi

Google adalah salah satu perusahaan yang menarik diri dari keikutsertaan di konferensi tersebut. Padahal konferensi ini punya nilai penting bagi Arab Saudi yang tengah berambisi melakukan reformasi dan modernisasi di negaranya.

Kasus ini juga menimbulkan gesekan antara Saudi dengan Turki. Negara itu berulang kali menuduh Saudi enggan bekerjasama untuk melakukan penyelidikan terkait hilangnya wartawan itu. Belakangan, Saudi memperbolehkan polisi Turki di kedutaan mereka.

Sebelumnya, pihak kepolisian Turki percaya bahwa 15 orang warga Saudi yang datang bersamaan dengan Kashoggi di Konsulat Arab berkaitan dengan kasus hilangnya Kashoggi. Setidaknya sebagian dari mereka memiliki koneksi dengan pejabat tinggi di pemerintah Saudi.

Trump Ancam Hukum Berat Pelaku Kasus Jamal Khashoggi

Trump Ancam Hukum Berat Pelaku Kasus Jamal Khashoggi

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjanji pihak pemerintahannya akan mengusut hingga ke akar soal kasus hilangnya jurnalis Washington Post, Jamal Khashoggi.

Selain itu, dalam wawancara dengan 60 Minutes, Trump mengancam akan memberikan hukuman berat bila Jamal Khashoggi benar dibunuh seperti yang dituduhkan Turki ke Arab Saudi.

Trump mengatakan bahwa kasus tersebut amat diperhatikan oleh dirinya dan pemerintah AS. Pun, dia mengatakan amat sangat marah dan kecewa bila terbukti Arab Saudi ada di balik kasus tersebut.

“Pada saat ini, mereka membantahnya, dan mereka menolaknya dengan keras. Mungkin kah itu mereka? Ya”, kata Trump, dikutip dari CNN.

Lihat Juga: Trump: Penyelidik AS Kerja dengan Turki-Saudi soal Khashoggi

Khashoggi yang merupakan jurnalis Washington Post dan mantan pegawai Pemerintah Arab Saudi sebelumnya dikabarkan menghilang usai mengunjungi konsulat Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.

Dirinya diketahui mengunjungi konsulat untuk mengambil dokumen yang memungkinkan Khashoggi untuk menikahi tunangannya yang merupakan warga negara Turki.

Seorang sumber yang dekat dengan kasus tersebut pada Jumat (12/10) mengatakan kepada CNN bahwa pihak Turki mengaku memiliki video dan audio yang menunjukkan Khashoggi dibunuh di dalam konsulat Saudi tersebut.

Bukti tersebut disebut menggambarkan adanya pergulatan di dalam gedung konsulat. Selain itu, si sumber menyebut ada pula bukti yang menunjukkan Khashoggi dibunuh.

Lihat Juga: Sistem Senjata Pentagon Mudah Diretas Musuh

Si sumber mengatakan pihak intelijen asing menemukan sifat bukti tersebut, yang dikatakan oleh pejabat Pemerintah Turki sebagai “mengejutkan dan menjijikkan”.

Di sisi lain dilansir dari CNN, berbicara di Ruang Oval di Gedung Putih, Trump mengatakan “kami akan segera melihatnya segera” kala ditanya wartawan sudahkah dirinya melihat bukti tersebut.

Saudi bersikeras Khashoggi memasuki konsulat untuk mengurus dokumen pernikahannya. Mereka juga bilang Khashoggi sudah meninggalkan gedung konsulat dengan aman tetapi belum memberikan bukti visual tentang peristiwa itu.

Akan tetapi, berdasarkan dari rekaman CCTV yang tersebar luas, tunangan Jamal Khashoggi, Hatice Cengiz terekam menunggu jurnalis tersebut di luar konsulat. Pun Cengiz mengatakan bahwa dirinya tak melihat kekasihnya itu muncul lagi.

Lihat Juga: Penyebab Negara Korea Terpecah Menjadi Dua Negara

Menang Pemilu, Anwar Ibrahim Selangkah Lagi Jadi PM Malaysia

Menang Pemilu, Anwar Ibrahim Selangkah Lagi Jadi PM Malaysia

Anwar Ibrahim, 71, menandai kembalinya ia ke politik Malaysia setelah berhasil memenangi suara mayoritas pemilu sela di Port Dickson.

Seperti dilansir dari AFP, Presiden Partai Keadilan Rakyat (PKR) tersebut mendapatkan lebih dari 71 persen suara untuk membawanya kembali ke parlemen Malaysia.

“Saya bahagia dengan hasil ini. Allah memberkati kita semua”, ujar pria kelahiran Agustus 1947 itu menanggapi kemenangannya tersebut setelah sempat mendekam di bui akibat dakwaan kasus sodomi untuk kedua kalinya pada 2014 silam.

Lihat juga: Anwar Ibrahim: Saya Maafkan Mahathir Meski Dia Tak Minta Maaf

Mengutip dari situs berita Malaysiakini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat menyatakan Anwar mengantongi 31,016 suara dari total 43.489 suara (598 surat suara tak sah dan 49 surat suara tak dikembalikan).

Lawan politik Anwar yang mendapatkan suara terbanyak kedua adalah politikus PAS, Mohd Nazari Mokhtar, dengan raihan 7.456 suara.

Dalam pemilu sela di Port Dickson itu ada tujuh kandidat termasuk Anwar. Salah satu dari saingan Anwar adalah mantan ajudannya yang menuding dirinya atas kasus sodomi, Mohd Saiful Bukhari Azlan.

Saiful merupakan orang yang menjebloskan Anwar ke penjara pada 2008 silam. Dia mengklaim bahwa dirinya adalah korban sodomi Anwar di sebuah kondominium di Bukit Damansara, Kuala Lumpur. Meski begitu, dia menegaskan pencalonannya bukan terkait ‘masa lalunya’ dengan Anwar.

Lihat juga: Mahathir Sebut Malaysia Bisa Hancur di Tangan Najib

Pilihan rakyat kecil Port Dickson dilakukan setelah anggota parlemen distrik tersebut mengundurkan diri untuk memberi jalan Anwar menjadi anggota parlemen.

Di sisi lain, kemenangan Anwar tersebut, membuat dirinya berada pada jalur yang benar untuk menjadi suseksor Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, 93.

Mahathir yang berhasil menjungkalkan Najib Razak dari kursi perdana menteri pada tahun ini semula memang menyatakan dirinya hanya akan berada di kursi kepemimpinan itu tak sampai akhir periode. Dalam perjanjian pada Pakatan Harapan, jika Anwar terpilih menjadi anggota parlemen, dirinya berhak menggantikan Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri Malaysia berikutnya setelah dua tahun.

Lihat juga: Sekjen PBB Kunjungi Pusat Gempa Palu-Donggala

Sekjen PBB Kunjungi Pusat Gempa Palu-Donggala

Sekjen PBB Kunjungi Pusat Gempa Palu-Donggala

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengunjungi korban gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (12/10). Sebelumnya dia memuji kecepatan aksi pemerintahan Presiden Joko Widodo menanggulangi bencana gempa dan tsunami di Lombok serta Sulawesi Tengah.

Pemerintah pusat turut membantu pemerintah daerah dan provinsi pascabencana di Lombok, Palu, dan Donggala. Di Sulawesi Tengah, kini listrik telah beroperasi lebih dari 70 persen setelah hampir mati total seminggu lalu.

Penanganan gempa di Lombok pun bertaraf nasional meski tak berstatus bencana nasional.

Antonio, kata Retno, memuji kinerja pemerintahan Indonesia sebab menurutnya tidak mudah bekerja dalam kondisi sulit atau emergency seperti itu. Ia turut menyampaikan dukacita atas bencana yang menelan lebih dari 2000 jiwa.

Ditemani Wakil Presiden Jusuf Kalla, Guterres sempat mengunjungi kamp-kamp pengungsian dan berbicara dengan beberapa korban di Balaroa.

“Kami bersama rakyat Indonesia dan Sulawesi”, kata Guterres setelah mengunjungi Balaroa di sela pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Bali, seperti dikutip AFP.

“PBB bersama kalian semua, kami akan membantu pemerintah menjalankan misi penyelamatan dan pemulihan”.

Balaroa menjadi salah satu wilayah paling parah terdampak bencana. Tanah di sekitar Balaroa amblas ketika gempa mengguncang Palu membuat seluruh bangunan dan rumah ambruk seakan tersedot ke dalam tanah.

Gempa berkekuatan 7,4 skala richter mengguncang Palu dan Donggala pada 28 September lalu.

Sebanyak 200 ribu warga Palu dan Donggala terpaksa mengungsi akibat bencana yang telah menewaskan sekitar 2.000 orang itu. Sementara sekitar 5.000 lainnya masih hilang.

Proses pencarian korban telah dihentikan. Kini, pemerintah tengah berfokus menyalurkan bantuan bagi para korban selamat.

Sejauh ini, PBB telah menggelontorkan US$50,5 juta atau setara Rp767 miliar bantuan penanggulangan bencana.

Indonesia semula menolak bantuan internasional, namun empat hari pascabencana Presiden Joko Widodo mulai mengizinkan bantuan luar negeri untuk masuk ke Palu dan Donggala.

Pemerintah disebut berencana membangun monumen untuk mengingat para korban yang tewas dan hilang akibat bencana terburuk sejak gempa di Lombok pada akhir Juli lalu itu.

Trump: Penyelidik AS Kerja dengan Turki-Saudi soal Khashoggi

Trump: Penyelidik AS Kerja dengan Turki-Saudi soal Khashoggi

Presiden Donald Trump mengklaim bahwa sejumlah penyelidik Amerika Serikat bekerja sama dengan Ankara dan Riyadh untuk menginvestigasi kasus jurnalis Arab Saudi yang hilang di Turki, Jamal Khashoggi.

“Kami tak bisa membiarkan ini terjadi. Kami sangat keras dan ada penyelidik kami di sana dan kami bekerja sama dengan Turki dan tentu saja Arab Saudi”, ujar Trump kepada Fox, sebagaimana dikutip AFP, Kamis (11/10).

Ketika ditanya lebih lanjut mengenai kekhawatiran akan keretakan hubungan dengan Saudi akibat kasus ini, Trump hanya menjawab, “Saya harus cari tahu apa yang sebenarnya terjadi”.

Kekhawatiran keretakan hubungan ini semakin menjadi setelah seorang pejabat AS mengatakan kepada The Washington Post bahwa berdasarkan intersepsi intelijen, diketahui sejumlah pejabat senior Saudi berencana melacak keberadaan Khashoggi.

Trump sendiri mengaku sudah menelpon langsung seorang pejabat tinggi Saudi untuk meminta penjelasan mengenai Khashoggi.

Ia bahkan mengatakan bahwa pihak Gedung Putih sudah menghubungi otoritas Saudi “lebih dari satu kali” sejak kontributor Washington Post itu menghilang pada 2 Oktober lalu setelah masuk ke gedung konsulat Saudi di Istanbul.

Hingga kini, penyelidikan masih berlanjut. Namun, Turki menduga Khashoggi diculik dan dibunuh oleh Saudi.

Penyelidik Turki kini sedang meneliti rekaman CCTV yang menunjukkan momen ketika Khashoggi masuk ke dalam gedung konsulat Saudi di Istanbul.

Saat itu, Khashoggi dilaporkan bermaksud untuk mengambil dokumen untuk keperluan pernikahannya dengan tunangannya yang berkebangsaan Turki, Hatice Cengiz.

Cengiz tak ikut masuk ke dalam konsulat dan memilih untuk menunggu di luar. Setelah berjam-jam menunggu, Cengiz tak melihat tunangannya itu keluar gedung hingga konsulat tutup.

Sejak saat itu, AS selalu memperingatkan Saudi agar menjalankan penyelidikan secara terbuka dan transparan.

“Orang-orang dengan kemampunan luar biasa sedang menyelidiki ini. Kami tidak suka ini. Saya tidak suka. Tak ada yang baik”, katanya.

Namun, pihak Turki membantah pernyataan Trump mengenai kerja sama aparat AS dengan negaranya.

“Informasi bahwa Amerika Serikat menugaskan penyelidik untuk menyelidiki kasus Khashoggi sama sekali tidak benar”, ujar seorang sumber diplomatik Turki sebagaimana dikutip kantor berita Anadolu.

Sistem Senjata Pentagon Mudah Diretas Musuh

Sistem Senjata Pentagon Mudah Diretas Musuh

Sistem senjata baru Pentagon yang dikembangkan oleh Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) ternyata mudah diretas oleh musuh. Hal ini diungkap oleh badan penguji akuntabilitas pemerintah (The Government Accountability Office – GAO).

Menurut mereka, Pentagon tidak menyadari betapa mudahnya musuh untuk mendapatkan akses ke komputer dan perangkat lunak sistem senjata mereka tanpa terdeteksi.

GAO juga mengatakan bahwa titik lemahnya dimulai dari kata sandi yang buruk dan komunikasi yang tidak terenkripsi.

Jalur akses untuk sistem ini terus bertambah jumlahnya dan tidak dipahami oleh operatornya sendiri, bahkan sistem non-jaringannya menjadi sangat rentan.

Laporan GAO menyalahkan militer AS karena tidak memasukan keamanan jaringan ke dalam proses desain dan akuisisi untuk senjata yang bergantung pada komputer.

GAO juga menambahkan bahwa pengembang senjata seringkali tidak memahami isu-isu mengenai keamanan siber.

“Karena kurangnya perhatian pada keamanan siber dari sistem senjata”, jelas GAO.

“Pentagon mungkin memiliki seluruh sistem yang dirancang dan dibangun tanpa mempertimbangkan keamanan siber yang memadai”.

“Dalam satu kasus, butuh tim penguji dua orang selama satu jam hanya untuk mendapatkan akses awal ke sistem senjata. Butuh satu hari untuk mendapatkan kontrol penuh dari sistem yang mereka uji”, tulisnya.

“Mereka bisa melihat secara real-time, apa yang dilihat operator di layar mereka dan dapat memanipulasi sistem”.

Namun, antara 2012 dan 2017, para penguji di Kementerian Pertahanan AS secara rutin telah menemukan kerentanan yang berbahaya dalam semua sistem persenjataan yang sedang dikembangkan.

“Dengan menggunakan alat dan teknik yang relatif sederhana, penguji dapat mengendalikan sistem dan sebagian besar beroperasi tanpa terdeteksi. Dalam beberapa kasus, operator sistem tidak efektif menanggapi peretasan”, tulisnya.

Hal ini meningkatkan resiko sistem senjata Pentagon dan sistem lainnya semakin berhubungan dan memiliki ketergantungan dengan perangkat lunak dan jaringannya.

Laporan itu muncul ketika pemerintah AS melihat hal ini sebagai upaya peretas yang didukung oleh pemerintah Rusia dan China untuk menembus jaringan komputer pemerintah dan sektor swasta untuk mencuri data atau sekedar menimbulkan kekacauan.

Duta Besar AS untuk PBB Mengundurkan Diri

Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Nikki Haley, menyerahkan surat pengunduran diri kepada Presiden Donald Trump pada Selasa (9/10).

Menerima kehadiran Haley di Oval Office, Trump mengatakan bahwa mantan Gubernur South Carolina itu sudah menjalankan “tugas dengan fantastis”.

Trump mengatakan bahwa Haley sebenarnya sudah mengutarakan keinginannya untuk berhenti sejak beberapa bulan lalu.

“Dia memberi tahu saya sekitar enam bulan lalu. ‘Saya ingin beristirahat sejenak'”, ucap Trump yang kemudian menjelaskan bahwa Haley akan mulai berhenti bekerja di PBB pada akhir tahun ini.

Sementara itu, Haley hanya tersenyum dan sama sekali tak membeberkan alasannya berhenti. Ia hanya mengatakan bahwa “penting untuk mengetahui kapan waktunya menyingkir”.

Meski tak mengungkap rencananya ke depan, Haley memastikan tidak akan mencalonkan diri sebagai presiden melawan Trump pada pemilu 2020 mendatang.

Haley memang sempat digadang-gadang menjadi salah satu capres untuk Partai Republik sebagai alternatif sosok yang lebih moderat.

Sejak awal, penunjukan Haley sebagai Dubes AS untuk PBB memang sudah mengejutkan publik mengingat mantan Gubernur South Carolina itu dikenal sangat kritis terhadap Trump  selama masa kampanye, terutama mengenai imigran.

Nama Haley mulai menjadi sorotan publik setelah tragedi besar yabg terjadi di wilayah pimpinannya pada 17 Juni 2015, ketika sembilan warga kulit hitam tewas ditembak di dalam gereja.

Saat itu, Haley memberikan tanggapan yang sangat keras hingga akhirnya ia memutuskan untuk menurunkan bendera Konfederasi Amerika dari Gedung Parlemen South Carolina.

Pada masa Perang Sipil, bendera tersebut dikibarkan oleh pasukan Konfederasi properbudakan dan dianggap sebagai simbol rasisme.

Sikap Haley ini membuatnya menuai pujian dari banyak pihak, termasuk kedua kubu Partai Republik dan Parta Demokrat.

Meski kerap berselisih paham dengan Trump selama masa kampanye, putri imigran India ini tetap bekerja secara profesional di PBB.

Haley mulai menunjukkan gelagat tak baik sejak beberapa bulan lalu, ketika ia bercerita kepada Reuters mengenai tugasnya untuk melindungi kepentingan AS di PBB.

“Setiap hari saya merasa harus memakai pelindung tubuh dari  senjata”, katanya.

Isteri PM Israel Benjamin Netanyahu Diadili Kasus Korupsi

Isteri PM Israel Benjamin Netanyahu Diadili Kasus Korupsi

Isteri Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diadili dengan dakwaan penyalahgunaan dana pemerintah untuk pembayaran ratusan jamuan yang diselenggarakan dengan berbohong.

Kasus Sara Netanyahu ini adalah satu dari sejumlah masalah hukum yang dihadapi keluarga perdana menteri Israel itu.

Sidang pertama pada Minggu (7/10) ini merupakan saga paling baru yang melanda Israel meski keluarga Netanyahu menganggapnya sebagai upaya “konyol” lain untuk menjelekan nama mereka.

Perdana Menteri Netanyahu sendiri berpotensi didakwa dalam kasus korupsi lain yang memicu spekulasi dia akan terpaksa mengundurkan diri.

Sara Netanyahu dikenai dakwaan penipuan dan pelanggaran rasa percaya pada Juni lalu.

Jaksa penuntut menuduh Sara menyalahgunakan dana pemerintah untuk membayar jasa katering perjamuan bernilai US$100 ribu dengan berbohong bahwa tidak ada juru masak di kediaman resmi perdana menteri.

Berkas dakwaan menyebutkan bahwa sejak 2010 hingga 2013, Sara, keluarga dan tamu-tamu mereka menerima “hasil penipuan melalui jamuan makan yang dibiayai dengan dana negara”.

Disebutkan pula bahwa jamuan makan itu dipesan dari sejumlah restoran terkenal Yerusalem seperti satu restoran Italia, restoran makanan Timur Tengah dan restoran sushi.

Sidang pengadilan yang bisa berjalan selama berbulan-bulan akan dilaksanakan di pengadilan Yerusalem dan dipimpin oleh tiga hakim karena tingkat sensitivitas kasus ini.

Pengadilan Sara Netanyahu sedianya akan dilaksanakan pada Juli lalu tetapi ditunda dengan alasan yang tidak diumumkan oleh publik.

Sara Netanyahu, 59 tahun dan sering mendampingi suaminya, menyangkal melakukan kesalahan.

Isteri Benjamin Netanyahu ini sebelumnya dituduh mengantungi uang tunai dari pengembalian uang muka botol kosong yang dikembalikan dari dumah dinas perdana menteri.

Dia juga dituduh memperlakukan staf dengan semena-mena, dan pada 2016 pengadilan memutuskan dia harus memberi ganti rugi sebesar US$74 ribu kepada mantan asisten rumah tangga yang menuduh pasangan itu berulang kali melakukan pelecehan tempat kerja.

Seluruh tuduhan yang melibatkan keluarga Benjamin Netanyahu ini diamati dengan cermat oleh media Israel dan keluarga itu melakukan serangan balik dengan menyebutnya sebagai upaya menjelekan nama mereka secara tidak adil.

Sara Netanyahu pernah mengatakan bahwa “darah telah tumpah secara terbuka”.

Satu contoh paling terkenal terjadi pada 2017 ketika perdana menteri Israel dan isterinya tampil di sidang pengadilan kasus pencemaran nama baik terhadap klaim seorang wartawan bahwa Sara Netanyahu mengusir suaminya dari mobil ketika bertikai.

Benjamin Netanyahu bersaksi bahwa berita itu karangan “yang tidak masuk akal”.

Pengadilan memutuskan keluarga Netanyahu mendapatkan ganti rugi sebesar US$32,5 ribu.

Isteri PM Israel Benjamin Netanyahu Diadili Kasus Korupsi

Tetapi sekarang ada sejumlah tuduhan yang lebih serius yang berpotensi dihadapi oleh perdana menteri Israel ini.

Perdana menteri dari kubu sayap kanan ini sudah berkuasa selama 12 tahun, pertama pada 1996-1999 dan jabatan kedua kali yang dimulai pada 2009.

Benjamin Netanyahu tahun depan berpotensi melewati catatan rekor masa sebagai perdana menteri yang kini dipegang oleh pendiri negara Israel David Ben-Gurion yang berkuasa selama 13 tahun.

Tetapi Netanyahu kemungkinan didakwa dalam beberapa bulan ini dan polisi memanggilnya untuk kali ke-12 pada Jumat (5/10) sebagai tersangka sejumlah kasus.

Tuduhan itu antara lain berusaha mendapatkan kesepakatan rahasia dengan koran terbesar Israel Yediot Aharonot agar mendapat liputan positif dengan imbalan mendorong peraturan yang membatasi sirkulasi pesaing koran itu.

Kasus lain yang melibatkan perdana menteri dan keluarganya adalah tudingan mereka menerima hadiah mewah dari sejumlah individu kaya demi imbalan financial atau kepentingan pribadi.

Media Israel melaporkan bahwa saat ini juga sedang dilakukan penyelidikan terkait hubungan perdana menteri dengan perusahaan telekomunikasi raksasa Bezaq dan pemegang saham terbesar Shaul Elovitch.

Dalam kasus ini Benjamin Netanyahu dituduh mendapatkan liputan positif dari situs berita Walla yang dimiliki oleh Elovitch dengan imbalan kebijakan pemerintah yang menguntungkan kepentingan konglomerat itu yang bernilai ratusan juga dolar.

Elovitch ditangkap pada Februari bersama dengan enam orang lain seperti Nir Hefetz, mantan penasehat media keluarga Netanyahu yang kemudian menjadi saksi kejaksaan.

Polisi telah merekomendasikan agar Benjamin Netanyahu didakwa dalam dua kasus, meski Jaksa Agung Israel belum memutuskan untuk menjalankan rekomendasi itu.

Meski dilanda berbagai penyelidikan, tingkat popularitas Benjamin Netanyahu di jajal pendapat masih tinggi dan dia tidak harus mengundurkan diri jika benar-benar didakwa.

Cerita Nadia, Budak Seks ISIS Peraih Nobel Perdamaian

Cerita Nadia, Budak Seks ISIS Peraih Nobel Perdamaian

Nama Nadia Murad terus menjadi sorotan publik internasional setelah dinobatkan menjadi salah satu peraih Nobel Perdamaian 2018, Jumat (5/10).

Perempuan 25 tahun itu merupakan keturunan Yazidi, kelompok minoritas religius yang sebagian besar bermukim di Irak. Yazidi kerap menjadi target persekusi oleh ISIS.

Murad menjadi satu di antara ratusan perempuan Yazidi yang mejadi korban perbudakan dan pemerkosaan oleh kelompok teroris itu.

Kini, ia memanfaatkan pengalaman traumatiknya -yang pernah diperbudak dan diperkosa pejuang ISIS di Mosul- untuk mengadvokasi kaum minoritas Yazidi dan korban budak seks ISIS di Irak.

Mimpi buruknya bermula saat ISIS merangsek desanya di Kocho, Irak, pada 2014 lalu. Sang ibu serta enam dari sembilan saudara laki-lakinya dibunuh para militan.

Sementara itu, dia dan banyak gadis lain di desanya diculik ISIS untuk dijadikan budak seks para anggota militan secara bergantian.

Kepada CNN, Murad bercerita mengenai ketakutan perbuatan ISIS terhadap desanya. Saat itu, tepatnya 3 Agustus 2014, Murad mengatakan bahwa ISIS membunuh sedikitnya 5.000 Yazidi dan menculik sedikitnya 6.500 perempuan serta anak-anak.

“Selama delapan bulan, mereka (ISIS) memisahkan kami dari ibu dan saudara-saudara kami. Beberapa dari keluarga kami juga dibunuh, sementara lainnya masih hilang”.

Murad mengatakan ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas ketika ISIS menyerang desanya. Saat itu, ia merasa putus asa dan menganggap mimpinya untuk menjadi guru sejarah atau ahli tata rias sirna begitu saja.

Beruntung, Murad akhirnya bisa kabur dari ISIS ketika seorang keluarga menolongnya dengan memberi dia identitas palsu yang memungkinannya melarikan diri keluar wilayah kelompok tersebut di Mosul.

Selain Nobel Perdamaian, Murad juga telah mendapat sejumlah penghargaan lainnya seperti Vaclav Havel Human Rights Prize, Sakharov Prize, dan Clinton Global Citizen Award and the Peace Prize dari Asosiasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Spanyol.

Memoarnya yang berjudul “The Last Girl” juga menjadi salah satu karya terlaris The New York Times.

Pada 2015, Murad berkesempatan berbicara di depan Dewan Keamanan PBB. Dia menceritakan pengalaman pahitnya saat dipaksa memenuhi hasrat sekelompok militan ISIS secara bergantian dan gagal melarikan diri.

Dalam aturannya, ISIS memang menganggap kaum Yazidi sebagai kelompok sesat karena tidak mempraktikan hukum Islam sebagaimana mestinya. Karena itu, ISIS menganggap memperbudak Yazidi merupakan sesuatu yang legal.

“Mereka (ISIS) menjual perempuan di bawah umur karena ISIS menganggap itu dibenarkan dalam hukum Islam”, ujar Murad. “Mereka tak hanya datang dan menargetkan orang-orang tertentu, mereka menyerang semua orang Yazidi”.

Di usianya yang ke 23 tahun pada 2016 lalu, Murad dinobatkan sebagai duta besar PBB sebagai salah satu korban perdagangan manusia yang selamat. Di tahun yang sama, dia berkesempatan berbicara di depan Kongres AS dan mendesak Negeri Paman Sam agar melawan ISIS secara lebih agresif lagi.

“ISIS tidak akan menyerahkan senjata mereka kecuali kita memaksa mereka menyerahkan diri. Kaum Yazidi tidak bisa menunggu”, kata Murad saat berpidato di depan Kongres.

Warga Korsel Ditemukan Tewas di Lokasi Gempa Palu-Donggala

Warga Korsel Ditemukan Tewas di Lokasi Gempa Palu-Donggala

Seorang warga Korea Selatan yang hilang di Palu, Sulawesi Tengah, akibat gempa ditemukan tewas di bawah reruntuhan Hotel Roa-Roa pada Kamis (4/10).

“Kami sangat menyayangkan bahwa jenazah seorang warga Korsel ditemukan di bawah reruntuhan Hotel Roa-Roa di Palu. Jenazah ditemukan kemarin sore oleh tim pencarian”, kata Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Kim Chang-beom, Jumat (5/10).

Warga Korsel itu memiliki nama keluarga Lee. Lee tidak bisa dikontak sejak dilaporkan hilang saat gempa dan tsunami menerjang Palu dan Donggala pada 28 September lalu.

Sorang kerabat warga Korsel tersebut mengatakan kepada Yonhap bahwa pria dengan nama keluarga Lee itu datang ke Palu pada Senin lalu bersama enam warga Indonesia untuk menghadiri acara paragliding.

Di Palu juga tengah digelar Festival Pesona Palu Nomoni. Puluhan hingga seratusan orang pengisi acara belum diketahui nasibnya.

“Kami bicara dengan Lee lewat telepon pukul 16.50 pada Jumat, tapi sejak saat itu dia tidak bisa dihubungi. Orang Indonesia yang pergi bersama dia juga tak bisa dikontak”, ujar sumber anonim tersebut, Sabtu (29/9).

Kim mengatakan ibu Lee segera terbang ke Palu untuk mendampingi pencarian tak lama setelah Lee dikabarkan hilang.

“Sang ibu sangat berharap anaknya bisa ditemukan dalam keadaan selamat. Namun, sayangnya, harapan itu sirna dengan hasil pencarian”, kata Kim.

“Meski begitu, kami sangat mengapresiasi pemerintah Indonesia yang telah mengerahkan operasi pencarian. Kami semua mendoakan agar pemulihan pascabencana bisa segara terlaksana”.

Kim mengatakan jasad Lee telah dikremasi di Palu. Sementara abu jenazah akan dikirimkan ke Bali malam ini oleh sang ibu.

“Selama ini mendiang (Lee) tinggal di Bali dan pergi ke Palu untuk berpartisipasi dalam salah satu turnamen paragliding”, ucap Kim.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana (BNPB) sedikitnya 120 warga negara asing berada di Palu dan Donggala saat bencana yang telah merenggut lebih dari 1.400 nyawa itu terjadi.

Sebagian besar telah dievakuasi ke luar daerah Palu dan beberapa lainnya telah kembali ke negara asal.

Sementara itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan dua WNA memutuskan bertahan di Palu karena keperluan masing-masing.

Skip to toolbar